WEDA – Kebakaran penampungan ban bekas di kawasan industri PT IWIP hingga kini terus menyemburkan kepulan asap hitam pekat. Tak hanya mencemari udara, peristiwa ini juga menyebarkan hujan abu ke permukiman warga Desa Lokulamo hingga Senin (31/8/2026) malam.
Dampak langsung dari insiden ini dirasakan secara nyata oleh warga sekitar, baik dari paparan asap yang terhirup maupun serbuan abu sisa pembakaran yang hinggap di rumah-rumah penduduk.
Z, salah seorang warga yang enggan disebutkan nama lengkapnya, mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan sejak asap dan material abu ban bekas menerjang tempat tinggalnya.
“Dada terasa sesak kalau menghirup udara luar, mata perih sekali, dan tenggorokan rasanya gatal. Abunya juga masuk sampai ke dalam rumah dan menempel di jemuran. Kami khawatir sekali, apalagi buat anak-anak,” ungkap Z saat dikonfirmasi mengenai kondisi di lingkungannya.
Keluhan yang dialami Z dan warga sekitar selaras dengan risikomedis akibat pembakaran ban sintetik. Secara medis, asap dan abu sisa pembakaran ban mengandung berbagai senyawa kimia berbahaya, seperti partikel mikro (PM2.5), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO_2), serta senyawa karsinogenik seperti benzena, dioksin, dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH).
Ancaman racun tersebut menyasar kesehatan masyarakat dalam dua fase utama:
Dampak Kesehatan Jangka Pendek
Iritasi Akut: Kontak langsung dengan asap dan abu memicu mata perih berair, iritasi saluran pernapasan, batuk terus-menerus, hingga mual.
Gangguan Pernapasan: Menurunkan fungsi paru secara drastis, memicu serangan asma mendadak, serta memperburuk kondisi penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK).
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Kerusakan Paru Permanen: Partikel halus PM2.5 yang terhirup dapat menembus jauh hingga ke alveolus paru-paru dan meresap ke aliran darah, merusak organ secara perlahan.
Risiko Kanker (Karsinogenik): Paparan senyawa dioksin dan PAH dalam kurun waktu lama terbukti secara ilmiah meningkatkan risiko kanker paru-paru.
Gangguan Saraf dan Janin: Racun sintetik yang terakumulasi berpotensi mengganggu fungsi sistem saraf serta membahayakan tumbuh kembang janin pada ibu hamil. (ji)









