Pemangku Adat Suku Sangir di Desa Siokona Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara mulai buka suara terkait pernyataan Syamsul Rizal yang dianggap merendahkan dan menjatuhkan martabat Suku Sanger serta Masyarakat Oba, beberapa waktu lalu pada acara silaturrahim dengan warga Kelurahan Mareku.
Nada rasis dan merendahkan dari Syamsul Rizal itu dianggap sebagai upaya memecah keharmonisan masyarakat Tidore yang ada di daratan Oba.
Kristian Pudinaung salah satu Tokoh sekaliagus pemangku Adat suku Sangir menganggap ucapan yang dianggap Syamsul Rizal sebagai guyonan itu tidak pantas diucapkan oleh seorang calon pemimpin.
“Meskipun dia (Syamsul) mengatakan bahwa penghinaan itu hanya sebatas candaan, namun bagi kami itu tidak mungkin, karena dia orang pintar dan seorang Calon Pemimpin. tidak mungkin dia bisa bercanda dan merendahkan Suku Sangir dan Suku-Suku lain di wilayah Oba,” ucap Kristian, Jumat, (7/10/2022).

Lebih lanjut mengatakan, Fridol Sorowae bukan dari suku Sangir karena suku Sangir tidak memiliki marga Sorowae, dimana Fridol Sorowae hadir sebagai pembela Syamsul Rizal di sejumlah Media. Kristian juga mengingatkan Fridol Sorowae agar tidak membawa-bawa suku Sangir dalam masalah ini yang sudah ditunggangi kepentingan politik.
Baca Juga: Apa Kabar! Kasus Dugaan Rasis Terhadap Warga oba
“Pemuda yang menamakan orang sangir (Fridol Sorowae) itu bukan orang sanger, karena Suku Sanger tidak ada marga Sorowae. Kalau dia merasa bagian dari orang sangir kemudian dia beranggapan masalah ini sudah tendensius dan ditunggangi oleh elit politik, sesungguhnya dia tidak bertanggungjawab terhadap sukunya sendiri,” jelasnya.
Atas penghinaan terhadap Sangir itu Kristian berharap, pihak Kepolisian dapat menangani masalah ini dengan serius agar maslah seperti ini di kemudian hari tidak akan terulang lagi.
“Aksi unjuk rasa yang kami lakukan di depan Polres Tidore kemarin itu, tidak ada motivasi soal politik, melainkan kepedulian kami terhadap suku Sangir, sehingga kami datang untuk melakukan unjuk rasa. Hal itu karena suku kami telah dihina, dan saat itu saya sebagai tokoh sangir di Desa Siokona juga hadir pada aksi tersebut,” ungkapnya.
Senada dengan Kristian, Marlin Kepala Desa Siokona, Kecamatan Oba Tengah mengungkapkan kekesalannya terhadap penyataan Syamsul Rizal. Dia menduga, ucapan Syamsul Rizal sengaja untuk membenturkan suku-suku yang ada di Tidore.
“Meskipun dia sudah minta maaf, namun kasus ini harus diselesaikan oleh pihak Kepolisian sampai ke pengadilan. Karena jika tidak, maka kedepan orang lain juga akan melakukan penghinaan terhadap Suku sangir maupun suku lain yang ada di daratan Oba. Jadi kasus ini harus diakhir lewat proses hukum,” tegasnya.
Red









