Halut  

Proyek Bronjong Penanganan Bencana BPBD Malut Diduga Gunakan Material Kerikil

idetimur.com
Proyek BPBD Malut menggunakan kerikil dan tidak akan mampu menahan luapan air atau banjir ft/ist

TERNATE – Proyek penanganan bencana pada jembatan dan aliran Sungai Ake Kusuani di Desa Saluta, Kecamatan Galela Utara, Kabupaten Halmahera Utara yang ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara diduga tidak sesuai spesifikasi dan perencanaan.

Proyek senilai Rp 3 miliar tersebut dikerjakan oleh CV Toara Putra Mandiri, dengan item pekerjaan meliputi pembangunan oprit jembatan, pemasangan bronjong, serta normalisasi sekitar area jembatan.

Namun pada pelaksanaan pekerjaan bronjong yang telah selesai dikerjakan, ditemukan dugaan pengerjaan asal-asalan. Umumnya bronjong menggunakan batu pilihan berukuran besar, tetapi dokumentasi yang diterima media ini memperlihatkan adanya penggunaan material batu bercampur kerikil hingga pasir yang diambil dari sungai setempat. Material tersebut ditimbun menggunakan alat berat ke dalam cetakan anyaman bronjong. Ini juga diakui oleh Gamal.

Sejumlah bronjong juga ditemukan dalam kondisi tidak kokoh, dengan anyaman kawat yang tidak saling mengunci. Kondisi ini dikhawatirkan membuat bronjong rawan rusak kembali ketika debit sungai meningkat atau terjadi banjir.

idetimur.com
Bronjong yang dibangun BPBD Malut menggunakan batu dan kerikil dan mulai kehilangan kemampuan untuk menahan air sungai ft/ist

Menanggapi hal itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BPBD Maluku Utara, Gamal Hadi, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp pada Selasa (8/11/2025), membantah adanya kekurangan dalam pekerjaan. Ia menegaskan bahwa seluruh pekerjaan telah selesai dan sesuai perencanaan.

“Iya, batu untuk pasang bronjong kalau semuanya batu besar itu tidak bagus. Harus ada yang kecil-kecil untuk mengunci celah yang kosong. Jadi memang yang baik seperti itu, kalau semuanya besar justru akan goyang dan tidak saling mengikat,” jelasnya.

Selain persoalan material, ditemukan pula susunan bronjong yang diduga tidak sesuai desain. Berdasarkan keterangan PPK, struktur bronjong seharusnya memiliki enam susunan (2–1 hingga enam susun). Namun kondisi di lapangan tidak sesuai dengan penjelasan tersebut.

“Ini enam tingkat. Yang bawah itu dua susun, di atas satu susun, dan sudah selesai. Tinggal menunggu pemeriksaan dari inspektorat,” ujarnya. (ji)