Proses terjadinya hujan es menarik untuk diketahui dan dipelajari. Hujan es termasuk dalam kategori fenomena ekstrim dan jarang terjadi di Maluku Utara. Sehingga, kemunculan fenomena ini biasanya akan langsung menarik perhatian masyarakat.
Fenomena hujan es yang mengguyur kawasan pertambangan di wilayah Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara misalnya, merupakan fenomena langkah yang baru terjadi di Maluku Utara.
Hujan es sebesar batu krikil itu mengguyur hingga dan membuat warga kaget atas terjadinya fenomena itu.
Baca Juga:
Fenomena Hujan Es Melanda Halmahera Tengah
Dewi Madiong, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Babullah Ternate menjelaskan, fenomena itu lazim terjadi khususnya pada wilayah tropis, tak terkecuali di Maluku Utara.
Fenomena hujan es ini terjadi akibat beberapa faktor perubahan cuaca pada suatu wilayah.
“Hal itu terjadi itu butuh beberapa gangguan cuaca atau parameter yang sangat mendukung yang pertama adalah, muncul awan Cumulonimbus (Cb) yang cukup masif di wilayatlh tersebut, hal itu ditandai dengan adanya pemanasan sebelum terbentuknya awan (Cb) tersebut,” jelas Dewi , Prakirawan BMKG Ternate, Senin (17/01/2023).
Baca Juga:
Geger, Warga Temukan Mayat Karyawan Membusuk di Indekos
Terjadinya hujan es erat kaitannya dengan masalah perubahan lingkungan seperti suhu, tekanan udara, dan kelembapan. Proses terjadinya hujan es sebenarnya tak jauh berbeda dengan hujan air biasa. Yang membedakannya adalah pada proses kondensasi atau penguapan.
“Ini biasa terjadi pada pagi-siang hari itu pamanasannya cukup kuat sehingga meningkatkan penguapan sehingga pada saat siang-sore hari itu terbentuk awan (Cb) yang cukup signifikan di wilayah tersebut kemudian, awan (Cb) ini akan terkumpul masa uap air. Nah masa uap air ini ketika dia semakin jenuh ditambah suhu yang berada di awan tersebut akan mengeras dan menjadi bongkahan es,” ujarnya.
Ji









