Gubernur Maluku Utara Tinjau Pengungsi Gempa di Batang Dua, Warga Mengeluh Tidur Hanya Beralas Terpal

idetimur.com
Kondisi memprihatinkan korban bencana gempa di Batang Dua, Ternate yang mengeluh minim bantuan. (ft/idetimur.com)

TERNATE – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, meninjau langsung sejumlah lokasi pengungsian korban gempa bumi magnitudo 7,3 di Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Sabtu (11/4/2026).

Dalam kunjungannya, gubernur bersama wakil gubernur dan rombongan mendatangi satu per satu titik pengungsian untuk melihat langsung kondisi warga terdampak. Selain berdialog dan menyerap aspirasi masyarakat, Sherly juga meninjau sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan berat, termasuk rumah warga dan tempat ibadah.

Sejumlah bantuan dari Kota Ternate, termasuk bantuan dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, turut disalurkan melalui posko utama.

Pada kesempatan tersebut, Sherly menegaskan pemerintah akan segera membangun kembali rumah warga serta fasilitas ibadah yang rusak akibat gempa. Ia juga memastikan kekurangan fasilitas di lokasi pengungsian segera dipenuhi.

“Kita inventarisasi semua, baik rumah ibadah maupun rumah tinggal akan segera diperbaiki. Anggarannya dari provinsi, juga kita ajukan ke BNPB dan Kementerian Perumahan. Semua dokumen sudah diserahkan ke kementerian terkait, dan dinas provinsi juga sudah menindaklanjuti,” jelasnya.

Kondisi tenda dan tempat tidur warga hanya beralas terpal. (ft/idetimur.com)

Data di lapangan mencatat sebanyak 2.349 jiwa dari 668 kepala keluarga tersebar di 30 titik pengungsian. Para pengungsi mengeluhkan minimnya fasilitas, terutama tempat tidur dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK). Saat ini, sebagian besar warga hanya tidur beralaskan terpal.

“Total kekurangannya sekitar 250 unit yang harus segera dikirim. Untuk bantuan beras hari ini ada lima ton. Sebelumnya juga sudah disalurkan beras, gula, minyak goreng, mi instan, pakaian, obat-obatan, selimut, serta perlengkapan bayi dan anak,” tambah Sherly.

Selain keterbatasan fasilitas, warga juga masih diliputi trauma dan ketakutan untuk kembali ke rumah, mengingat aktivitas gempa yang masih terus terjadi setiap hari.

Salah satu warga, Robinson Arnyanyi, mengaku kondisi di pengungsian masih jauh dari layak dan berharap bantuan segera direalisasikan.

“Kebutuhan alas seperti terpal dan tempat tidur belum tersedia, kami hanya tidur di atas tanah. Kasur lipat menjadi kebutuhan mendesak karena kalau sebagian dapat dan sebagian tidak, bisa menimbulkan kecemburuan. Selain itu, selimut juga masih kurang dari distribusi sebelumnya,” ungkapnya. (aji)