Dengan dukungan LPP-Tipikor, GPM dan GMNI Ternate, tenaga medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesoirie Ternate, Maluku Utara kembali menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kementerian Dalam Negeri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Senin (6/02/2023).
Aksi unjuk rasa itu terkait persoalan yang ada di RSUD CB dimana, pemerintah Provinsi Maluku Utara tak mampu menyelesaikan tunggakan pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ratusan tenaga medis selama 16 bulan.
Baca Juga:
Gubernur, Sekda dan Sejumlah Pejabat RSUD CB Dilaporkan ke KPK dan Kejagung
Masa mendesak Mendagri segera memanggil dan memeriksa Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba (AGK) Sekretaris Daerah Samsudin Abd. Kadir, Kepala BPKAD Ahmat Purbaya, Kepala Dinas Kesehatan Idhar Side Umar serta Manajemen Rumah Sakit.

Baca Juga:
Doi Insentif Nakes 2017 RSUD CB Diduga Dipakai Gubernur AGK, Kejati dan Polda Didesak Usut
Mereka juga mendesak KPK agar segera memanggil dan memeriksa Gubernur (AGK) Sekda berseta sejumlah Kepala Dinas lainnya dan sejumlah pejabat RSUD CB untuk bertanggungjawab berkaitan dengan Dugaan Korupsi dana TPP Pegawai ASN/Non ASN Dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Money Loundry atas Rekening Bank Mandiri Nomor 186-00-0017010-7 dan Rekening Mandiri Nomor 186-00-0014149-5 yang mana saldo awal Rekening tersebut masing-masing senilai Rp. 5 Miliar serta diduga kuat Rekening tersebut digunakan untuk menampung sejumlah dana tertentu termasuk dana BPJS dan dana talangan, yang mana setelah kemudian dipindah bukukan (Pinbuk) pada Rekening resmi RSUD Chasan Boesoirie dengan Nomor 0601024007 Bank BPD Maluku/Maluku Utara atas nama RSUD Chasan Boesoirie.
Koordinator aksi Zainal Ilyas berharap KPK dan Mendagri agar segera merespon laporan yang terkait persoalan dugaan korupsi di RSUD CB.
“Kami berharap laporan yang ada itu bisa menjadi petunjuk untuk kemudian dilakukan pemanggilan terhadap Gubernuar Maluku Utara (AGK) dan Sekda bersama kepala Dinas terkait dan sejumlah pejabat rumah sakit RSUD Chasan Boesoirie Ternate,” kata Zainal Ilyas, Koordinator aksi.
Ji









