TERNATE – Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Provinsi Maluku Utara mengonfirmasi bahwa pekerjaan rehabilitasi rumah korban konflik di Desa Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, masih terus berjalan dan belum selesai sepenuhnya.
Hal tersebut disampaikan Koordinator Proyek, Zainudin, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Minggu (24/5/2026).
Menurut Zainudin, keluhan warga yang menyebut pekerjaan rehab rumah dilakukan asal-asalan dan tidak tuntas merupakan penilaian yang keliru karena proyek masih berada dalam tahap pelaksanaan.
Ia menjelaskan, sebagian pekerjaan atap rumah memang belum selesai dan akan kembali dilanjutkan setelah Idul Adha. Pihaknya juga mengakui terdapat dua unit rumah yang mengalami kebocoran sehingga akan dilakukan perbaikan, termasuk penggantian material kayu yang dinilai kurang berkualitas.
“Adapun atapnya yang bocor-bocor itu setelah pasang kita bisa lihat, oh ini bocor nanti kita ganti. Begitu juga dengan kayu. Jadi disana itu belum selesai pekerjaan masih dalam tahap pelaksanaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masuknya air ke dalam rumah bukan semata-mata disebabkan kebocoran seng, melainkan karena sebagian bangunan masih belum tertutup atap secara keseluruhan.
“Jadi itu pekerjaan belum selesai semua belum finising. Pekerjaan rehab berbeda dengan membangun (rumah) baru,” jelasnya.
Zainudin menyebut, terdapat 21 unit rumah dengan kategori rusak ringan, sedang, hingga berat yang ditangani dalam program tersebut. Setiap unit rumah mendapat anggaran penanganan sebesar Rp60 juta.
Dari jumlah tersebut, sembilan rumah disebut sudah selesai dipasangi atap, sementara sisanya masih dalam proses pengerjaan menyesuaikan kondisi kerusakan di lapangan.
“Ada rumah yang awalnya dikategorikan rusak ringan, tetapi setelah dicek ternyata kerusakannya cukup berat sehingga harus direhab lebih lagi. Jadi kami menyesuaikan dengan kondisi di lapangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkim Provinsi Maluku Utara, Musyrifah Alhadar, menegaskan pihaknya terus berupaya memperbaiki rumah warga terdampak konflik agar dapat kembali ditempati dengan aman dan layak.
“Yang pasti kami berupaya keras memperbaiki rumah-rumah yang rusak sesuai ukuran awal rumah mereka, sehingga semuanya bisa kembali ke rumah masing-masing dari tempat pengungsian dengan aman dan baik,” ujarnya. (aji)









