Usaha pembuatan gula dari pohon nira (aren) di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara cukup menjanjikan. Warga setempat tidak lagi memanfaatkan air nira sebagai bahan pembuatan minuman keras (cap tikus).
Baca Juga:
Proses pembuatan gula aren oleh Jumat salah satu warga di desa Kampung Makian, pulau Bacan terbilang masih sangat tradisional. Air nira yang disadap sendiri dikumpulkan kemudian di masak menggunakan panci dengan diameter cukup besar.
Baca Juga:
Mengolah air nira menjadi gula aren membutuhkan kesabaran dan telaten untuk terus mengaduknya berjam-jam hingga membentuk menjadi karamel.
Setelah dirasa cukup atau sudah sesuai yang di inginkan, gula yang masih berbentuk karamel kemudian dimasukan kedalam cetakan dengan ukuran yang disesuaikan dengan harga dipasaran.
Gula aren dari Halmahera Selatan ini cukup diminati hingga pemesanan datang dari sejumlah daerah seperti Kota Ternate Sayangnya, gula aren yang di produksi oleh Jumat ini tanpa dilabeli sebuah merek.
Gula aren hanya dikemas menggunakan daun lontar dan daun pisang kering kemudian dipasarkan atau dijual kepada pengepul yang kemudian di distribusikan ke pasar tradisional.
Hal ini karena Jumat tidak memiliki keterampilan standarisasi produk, marketing bahkan rebranding. Padahal prospek atau peminat gula aren untuk masuk ke pasar moderen cukup terbuka bila di olah kembali berbentuk bubuk dan dikemas kedalam botol atau berbentuk sachet.
“Harga yang saya jual per buah Rp.10000 dan saya memulai ini tahun 2021 dan ini sudah menjadi mata pencarian saya. Saya berharap usaha saya ini terus berkembang untuk menghidupi keluarga,” tuturnya.
Industri gula aren di Maluku Utara sangat menjanjikan karena sebagian besar hutan Halmahera ditumbuhi dengan pohon aren. Perlunya keterlibatan semua pihak untuk mendukung industri milik masyarakat kecil ini.
Ji









