7 Tahun Fakum, Tradisi Ela-ela Kembali Digelar Sultan Ternate

Lailatul Qadar
Sultan Ternate ke-49 hidayatullah Sjah, Imam besar Masjid Sigi Lamo atau masjid besar Kesultanan H. Hidayatulssalam Sechan dan Wali Kota Ternate, Tauhid Soleman nyalakan obor utama (idetimur.com)

IDETIMUR — Tradisi bakar obor atau Ela-ela ini ditandai dengan menyalakan obor utama oleh Sultan Ternate, Maluku Utara ke-49 hidayatullah Sjah, Imam besar Masjid Sigi Lamo atau masjid besar Kesultanan H. Hidayatulssalam Sechan dan Wali Kota Ternate, Tauhid Soleman depan kadaton kesultanan

Usai membakar obor utama, Sultan beserta perangkan adat kembali untuk selanjutnya mempersiapkan tandu untuk mengarak Sultan menuju masjid Kesultanan yang menandakan kebesaran dan kemuliaan siar Islam, dimana Sultan menggunakan jubah dan imama yang merupakan peninggalanan Sultan-sultan terdahulu.

Sultan yang di jinjing atau diarak oleh balakusu sekano-kano menuju masjid Kesultanan untuk menunaikan ibadah shalat isya dan dan taraweh itu, disambut hikmat oleh ratusan masyarakat Ternate sepanjang perjalanan menuju masjid kesultanan.

Malam lailatul Qadar
Sultan Ternate ke-49 hidayatullah Sjah dijinjing menuju Masjid Sultan (idetimur.com)

Uniknya, dalam malam tradisi Ela-ela malam menyambut lailatul Qadar ini, damar dan obor dibawakan oleh abdi dalam atau balakusu sakano-kano dilakukan oleh perangkat adat yang beragama Nasrani. Keragaman ini menandakan tolerasi yang kuat dibabawah naungan kesultanan Ternate.

Baca Juga: 7 Tahun Terbaring, Begini Kondisi Warga Tepeley

“Dengan ritual atau tradisi Ela-ela ini, kita akan dipertemukan dengan Ramadan yang akan datang, kita tidak tergolong orang-orang yang merugi. Di dalam Ela-ela ini juga tradisi warga Kesultanan yang berahama Nasrani juga hadir untuk membawakan damar, membawakan obor membantu dalam tradiai ini. Ini menandakan ikatan hubungan kuat, toleransi, silaturahim bagi masyarakat yang berbeda agama, berbeda suku dibawa naungan Kesultanan Ternate, dan ini sudah berlansung leama berabad-abad. Insya Allah akan tetap kami lestariskan,” jelas H. Hidayatulssalam Sechan, jou kalem.

Malm Ela-ela terakhir kali digelar pada masa mendinag Almarhim Mundaffar Sjah, Sultan Ternate ke-48, atau fakum 7 tahun lamanya.

“Sudah 7 tahun tradisi ini terputus dan Alhamdulillah pada malam ini dengan bertahtahnya Sultan hidayatullah Sjah, tradisi ini Kolano Uci Sabea kembali di laksanakan,” ucapnya. (Red)